Negeri Mayat Hidup Di  Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Negeri Mayat Hidup Di  Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Tana Toraja yang namanya mayat hidup benar-benar ada dan menjadi bagian dari ritual upacara adat. Sebagai salah satu budaya dengan ritual pemakaman tertua di dunia, bagi masyarakat Toraja kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Malahan mereka merayakannya dengan mengadakan prosesi pemakaman secara megah dan besar-besaran.

Tak jarang mereka rela menabung hingga bertahun-tahun agar bisa “merayakan” kematian kerabat mereka. Dan selama bertahun-tahun itu pula, jenazah kerabat yang meninggal disimpan di dalam rumah dan diperlakukan layaknya masih hidup – diberi makan, dimandikan, bahkan kadang dibawa ke luar.

Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, seseorang baru benar-benar meninggal setelah dilakukan upacara. Lusinan kerbau dan babi sengaja dikorbankan untuk “perayaan”  yang berlangsung sampai 11 hari ini.

Kemudian, arak-arakan membawa jenazah tersebut menuju bukit batu, di mana peti mati mereka telah dipersiapkan. Bagi bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, mereka akan dimakamkan di lubang-lubang khusus yang dipahat di batang pohon.

Bagian lain dari tradisi yang benar-benar langka ini adalah anggota keluarga yang masih hidup akan memandikan dan menggantikan pakaian sang jenazah setiap tahun lewat upacara Ma’Nene.

Dan tak berakhir sampai di situ, jenazah kemudian dibawa ke tempat di mana mereka meninggal lalu dibiarkan berjalan kembali ke bukit!

Patung-patung kayu dengan bentuk menyerupai sang jenazah lengkap dengan pakaian dan perhiasan diletakkan di lubang-lubang bukit. Masyarakat Toraja percaya bahwa patung-patung ini akan diisi oleh roh mereka yang telah meninggal supaya tetap bisa menjaga keluarganya.

Tana Toraja

Lokasi: Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.